Selasa, 22 Juli 2014

Biografi: I Nyoman Rembang

I Nyoman Rembang adalah seorang yang tidak hanya ahli dalam praktek gamelan Bali terutama pada gamelan bambu, beliau juga dikenal sebagai seorang guru dan cendikiawan dalam penelitian gamelan Bali. Selain itu I Nyoman Rembang juga sempat menjadi pengajar di Summer School Berkeley California USA selama 5 bulan pada tahun 1974. I Nyoman Rembang meninggal dunia pada hari senin 30 Agustus 2001 sekitar pukul 19.00 di kediamannya di Denpasar pada usia ke 71 tahun.

Tempat dan tanggal lahir
Lahir di Desa Sesetan Tengah, Kecamatan Denpasar Selatan, pada tanggal 15 Desember 1930, Rembang akhirnya menikah dengan gadis Rabinstiti pada tahun 1957. Dari perkawinannya dengan Ni Ketut Rabinstiti ini lahir lima anak, masing-masing: Ni Luh Putu Diah Purnamawati (1958), I Made Mercumahadi (1962), Ni Nyoman Ernadewi (1965), Ni Ketut Tilem Santilatri (1968), dan I Gede Putra Widyutmala (1971).

Masa kecil
Lahir dan besar di masa penjajahan mengakibatkan I Nyoman Rembang hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat lima tahun (1937-1942). Tapi baginya semua itu tidak pernah merupakan halangan untuk menjadikan dirinya seorang yang memiliki arti dalam masyarakat. Maka, ketika usianya mulai menginjak tujuh tahun ia sudah berguru kepada dua orang penabuh gender wayang kawakan yang ada di desanya, yakni I Wayan Jiwa dan I Wayan Naba. Kecintaannya pada seni, khususnya seni tabuh, rupanya melekat demikian dalam di hatinya. Rasa cinta itu terasa semakin menggebu-gebu ketika ia mendengar di sekitar desanya ada tokoh-tokoh karawitan yang sedang top dan populer di masyarakat. Maka bocah Nyoman Rembang yang waktu itu berumur delapan tahun pun mulai melangkahkan kakinya ke luar desanya untuk belajar menabuh Palegongan. Ia pun kemudian berguru kepada Bagus Putu di Desa Kepaon, I Nyoman Nyebleg dan I Wayan Kale dari Desa Geladag, I Wayan Regog di Banjar Belaluan, I Wayan Lotering di Kuta, I Nyoman Kaler di Desa Pagan, I Gusti Putu Made Geria di Desa Buagan, bahkan sampai ke Desa Tohpati. Di Tohpati ia berguru kepada I Ketut Gelebig,ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun (tahun 1940), ia mulai menekuni tabuh Pegambuhan sebagai pengiring Tari Gambuh yang kini diyakini sebagai dasar tari Bali. Tabuh ini ia pelajari pada guru-guru yang ada di sekitar desanya, antara lain Wayan Sianta (Desa Sesetan), Made Ceteg (Desa Sesetan), I Ketut Mertu (Pedungan), dan I Made Lemping (Pedungan).



Pengalaman
Kemampuan I Nyoman Rembang menyerap banyak tabuh Pegambuhan ini, ternyata kemudian membawa banyak hikmah bagi generasi penerusnya. Sebab, ternyata pula, tari Gambuh sebagai dasar tari Bali merupakan bentuk kesenian yang nyaris punah di jagat dewata ini. Sehingga, ketika Majelis Pertimbangan Kebudayaan (Listibya) Bali mengadakan seminar dan workshop mengenai tari Gambuh, maka tak ayal lagi I Nyoman Rembang yang menginjak usia remaja (15 tahun) masih sempat pula belajar angklung kebyar kepada I Nyoman Kaler di Desa Pagan dan I Ketut Gelebig di Desa Tohpati. Bahkan ketika kelima anaknya sudah lahir ia masih pula menyempatkan diri untuk belajar tabuh Gambang (tahun 1972) pada I Made Adi di Desa Sempidi.
Tahun 1952 ia menjadi guru tetap dalam bidang seni tabuh Bali pada Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) di Surakarta. Maka mulailah ia menjadikan profesi guru secara formal bagi kehidupan dirinya. Ketika kehadiran Kokar di Bali, ia pun pindah tugas sebagai guru di Kokar (sekarang SMKI) di Denpasar Bali ( tahun 1963). Tahun 1967, ketika ASTI (Akademi Seni Tari) Bali yang ikut dibidani pendiriannya mulai mengembangkan diri, I Nyoman Rembang tidak absen menyumbangkan keahliannya sebagai dosen tamu di Akademi tersebut. Tahun 1974, I Nyoman Rembang mendapat kehormatan di undang selama lima bulan untuk memberikan pelajaran tabuh Bali pada Summer School di Berkeley, California Amerika Serikat. I Nyoman Rembang ikut mendirikan Panti Kesenian Bali di Denpasar (1948). Tahun itu pula ia ikut memperkuat misi kesenian Bali yang melakukan kunjungan muhibah ke Surabaya. Tahun 1950 ia memperkuat misi kesenian Bali yang melakukan pagelaran di Istana Negara di Jakarta. Tahun 1951 ia melangkah ke luar negeri mengikuti misi kesenian Indonesia ke Colombo (Srilangka) dan Singapura. Tahun 1965 ia turut dalam pembentukan Lembaga Kebudayaan Nasional di Denpasar.

Tak berhenti sampai di sana. Tahun 1959 ia mengikuti rombongan kesenian Indonesia (Bhineka Tunggal Ika) ke Singapura. Tahun 1960 ia ikut dalam kepanitiaan pendirian Sekolah Kokar Bali di Denpasar. Dan ketika Listibya Bali memulai kehadiran dan aktivitasnya di masyarakat, I Nyoman Rembang juga banyak terlibat antara lain dalam pembinaan seni tari dan tabuh, juri berbagai kegiatan festival tari dan tabuh, serta seminar-seminar.
Tahun 1971 bersama guru-guru Kokar Bali ia mengadakan survey gamelan selonding di Desa Tenganan, Karangasem. Tahun 1972, ia mengikuti survey gambelan tradisional daerah Lombok bersama Dr.T.Sebas dari Swis dan Mr.Scharman dari Belanda. Pada tahun 1973 ia ikut menulis naskah-naskah mengenai karawitan Bali. Beberapa di antaranya sudah diterbitkan, seperti Panithitalaning Pegambuhan, Legong Keraton, Wayang Wong, Topeng, dan lain-lain.
Di samping itu, mulai tahun 1974 ia berpraktek melaras gambelan dari kerawang dan membuat gambelan-gambelan dari bambu terutama gambelan joged bumbung. Yang paling monumental tentu saja ia tercatat sebagai penemu musik bumbang yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Ia menciptakan alat dan komposisi musik bumbang ini setelah terinspirasi oleh ikan-ikan yang berenang di sebuah akuarium berair bening.

Dan, sehari-hari I Nyoman Rembang memang tak ubahnya anak-anak ikan yang tiada lelah bernapas dan berenang di dalam air, dengan berenang dan bernapas itulah ia hidup. Dengan belajar dan terus belajar mengasah ketajaman intuisi kreatifnya itulah I Nyoman Rembang yang di hari-hari senjanya sibuk melakukan penyelamatan musik Gambang ini bisa menjadikan dirinya sebagai salah seorang mpu tabuh Bali. Dengan begitu pula dia bisa tetap mempertahankan hidupnya yang sederhana meskipun berpredikat sebagai seniman besar.

Sunda Masih Tetap Jaya!

 Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan nasional. Maka dari itu, segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruh terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpengaruh pula terhadap kebudayaan daerah atau kebudayaan lokal. Kebudayaan merupakan suatau kekayaan yang sangat benilai, karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah, juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.
Ada banyak sekali suku bangsa di Indonesia yang sangat terkenal, salah satunya adalah Sunda  Sunda yang berasal dari bagian barat Pulau Jawa. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Kebudayaannya pun masih ada yang dilestarikan hingga kini, meski beberapa hasil budaya terancam kepunahan ditengah era globalisasi. Namun, ada beberapa tokoh pada saat ini yang terus berusaha melestarikan kebudayaan Sunda tersebut.

Di tengah kondisi tradisi lokal yang mulai tergeser oleh moderenisasi, seorang musisi metalhead muncul menjadi salah satu pionir yang melestarikan budaya sunda dengan memakai iket kepala khas priangan. Sosok tersebut dikenal di kalangan anak metal dengan nama Man Jasad.
Sekitar tahun 2005, vokalis band Jasad ini mulai memakai iket dan baju pangsi saat ia tampil bersama band-nya. Dengan gaya berpakaian seperti itu, tak mudah bagi Man. Ia mengaku kerap diejek oleh teman-temannya.
Namun seiring berjalannya waktu, ejekan tersebut terkikis sedikit demi sedikit bahkan menjadi bagian dari identitas anak metal. Saat ini setiap pertunjukan band-band metal, mayoritas menggunakan iket kepala, baik para pemain band-nya maupun penonton.
Tujuan Man memakai gaya pakaian tradisional sunda bukan hanya sekadar tampil beda. Dibalik selera musikya yang garang, Man mencoba ikut andil dalam pelestarian budaya sunda yang kini sudah semakin pudar di kalangan anak muda.
Lalu, ada satu lagi seorang tokoh yang sudah terbilang paruh baya, yaitu Endang Sugriwa alias Abah Olot. Ia rmeyakini, alat musik tradisional sebagai bagian dari kebudayaan suatu suku atau bangsa harus dilestarikan. Ini demi kebertahanan identitas masyarakat suku atau bangsa tersebut.
Abah Olot merasa berkewajiban mencegah kepunahan karinding. Sejak dari kakek buyutnya, keahlian membuat dan memainkan karinding diwariskan dalam keluarga. Ia lalu meninggalkan pekerjaannya sebagai perajin mebel kayu dan bambu di Cipacing, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ia kembali untuk menekuni warisan keluarga.

Di rumah bambu itu, Abah Olot dibantu lima perajin membuat karinding dan alat musik lain berbahan bambu. Pada ambin di teras rumah tersimpan seperangkat instrumen, berupa celempung (sejenis kecapi), toleat (seperti seruling), dan kokol (mirip kulintang). Instrumen itu digunakan grup musik tradisional Giri Kerenceng pimpinan Abah Olot.


Semua alat musik tradisional itu hampir punah. Namun, yang menjadi perhatian utamanya adalah karinding. Alasannya, hanya sedikit warga yang bisa membuat karinding.

Karinding mulanya terbuat dari pelepah aren dengan panjang 10-20 sentimeter. Namun dalam perkembangannya, pelepah aren semakin langka karena banyak warga yang menebangi pohon aren. Alasan mereka, pohon itu tidak lagi berbuah. Maka dari itu, pelepah aren pun terbuang, tidak sempat tua dan mengering. Bambu lalu menjadi bahan utama karinding. Syaratnya, umur bambu minimal dua tahun. Bambu dipotong, dihaluskan, dan dibagi menjadi tiga ruas.

Ruas pertama menjadi tempat mengetuk karinding dan menimbulkan getaran di ruas tengah. Di ruas tengah ada bagian bambu yang dipotong hingga bergetar saat karinding diketuk dengan jari. Agar bisa menimbulkan suara, ruas tengah karinding diletakkan di mulut, diapit bibir atas dan bawah.

Sekilas bunyi karinding serupa lengkingan serangga di sawah. Bunyi itu berasal dari resonansi di mulut saat karinding digetarkan. Untuk mengatur tinggi-rendah nada, pemain harus lincah mengatur napas dan ketukan jari. Alat semacam itu juga ada di Bali, disebut genggong. Namun, cara memainkannya berbeda. Genggong ditarik benang.

Abah Olot bercerita, karinding mulai jarang dimainkan selepas tahun 1970-an. Maraknya alat musik modern memengaruhi selera musik masyarakat sampai ke kampung. Karinding, yang dahulu sering dimainkan pada acara pernikahan atau sunatan, mulai menghilang.
Tahun 1940-1960-an, karinding akrab dalam kehidupan masyarakat Sunda. Karinding dimainkan untuk menghibur petani seusai memanen padi atau saat menjemur hasil panen. Malam harinya karinding dimainkan sebagai wujud sukacita atas hasil panen.

Minimnya publikasi tentang karinding menjadi salah satu faktor redupnya alat musik tradisional itu. Karinding hanya lestari dalam sejumlah kecil keluarga, termasuk keluarga Abah Olot.
Sejak usia 7 tahun, Abah Olot belajar memainkan dan membuat karinding dari ayah dan pamannya. Keahlian itu dia tinggalkan saat beranjak dewasa. Abah Olot sempat menjadi pengojek dan perajin mebel sebelum meneruskan warisan keahlian keluarga.

Namun, membangkitkan karinding tak mudah. Bunyi karinding dianggap tak sesuai dengan perkembangan musik. Saat awal membuat karinding, Abah Olot memberikan cuma-cuma kepada siapa pun yang mau menerima.

Ajakannya kepada pemuda di kampung untuk memainkan karinding ditolak. Namun, Abah Olot terus mempromosikan karinding ke berbagai daerah. Tahun 2008, pada perayaan ulang tahun Kota Bandung, dia bertemu komunitas kreatif kaum muda Bandung yang tergabung dalam Commonrooms.

Pada tahun yang sama dibentuk kelompok musik Karinding Attack beranggota delapan orang. Personel Karinding Attack bukan seniman tradisional Sunda. Mereka berasal dari komunitas musik underground dan death metal yang sering dianggap ”budak baong” (anak nakal). Abah Olot justru mengajari mereka memainkan karinding.

Hasilnya, pada berbagai pertunjukan musik cadas dan punk, seperti Bandung Deathmetal Festival pada Oktober 2009, karinding turut tampil. Bermula dari komunitas death metal, karinding mulai populer di kalangan kaum muda. Banyak di antara mereka lalu tertarik dan ingin belajar memainkan karinding.

Alat musik tradisional yang sempat dikhawatirkan punah itu kembali mewabah. Hampir semua daerah di Jawa Barat mempunyai kelompok musik karinding. Pemainnya bukan orang tua, tetapi anak muda dengan kreasi lagu modern.
Di balik semaraknya kembali karinding, ada Abah Olot yang tetap setia di ”bengkelnya”. Dia tetap tekun menghaluskan bambu dan menjaga identitas masyarakat Sunda.



Mereka menggunakan cara mereka sendiri untuk melestarikan kebudayaan. Meskipun cara mereka sempat dianggap kurang tepat, yaitu memperkenalkan kebudayaan Sunda kepada komunitas Bawah Tanah (Underground) Bandung. Tetapi, cara mereka terbilang cukup berhasil agar kebudayaan Sunda itu tidak akan termakan oleh derasnya arus modernisasi.
Saat ini, banyak sekali pemuda kota Bandung bahkan Jawa Barat yang menggunakan iket dan pangsi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan juga banyak sekali dari mereka yang mempunyai antusiasme yang sangat tinggi untuk belajar alat-alat musik tradisional, seperti karinding, celempung, toleat, dan sebagainya.

Hingga saat ini, Sunda masih tetap jaya!

-Agung Gumelar-

FILOLOGI

BAB I: Filologi Sebagai Disiplin Ilmu
A.    Pengantar
Filologi dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan kebudayaan masa lampau yang berupa tulisan. Studi atas karya tulisan masa lampau dilakukan karena adanya anggapan bahwa dalam tulisan terkandung nilai-nilai yang masih relevan denganj kehidupan masa kini.
Karya-karya tulisan masa lampau tersebut meeupakan hasil peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiranm perasaan, dan informasi mengenai berbagai segi kehidupan yang pernah ada.
B.     Pengertian Filologi
Filologi berasal dari kata Yunani: philos  yang berarti cinta dan logos yang berarti kata. Bentukan kedua kata tersebut menjadi cinta kata atau senang kata. Dalam pengertian yang lebih luas, filologi adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan ilmu kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau menyelidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesusastraannya (Baried, dalam Suryani, 2006: 3).
Filologi sebagai istilah memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut:
a)      Filologi sebagai ilmu tentang pengetahuan yang pernah ada.
b)      Filologi sebagai ilmu bahasa.
c)      Filologi sebagai ilmu sastra tinggi
d)     Filologi sebagai studi teks.

C.     Objek dan sasaran kerja Filologi
Filologi mempunyai objek dan sasarn kerja, yaitu naskah dan teks. Wahana teks-teks filologi ada yang berupa teks lisan dan teks tulisan. Naskah yang menjadi sasaran kerja filologi dipandang sebagai cipta sastra karena teks yang terdapat dalam naskah itu merupakan suatu keutuhan dan mengungkapkan pesan.
D.    Tujuan Filologi
Filologi diperlukan dalam upaya mengungkap informasi mengenai kehidupan masa lampau suatu masyarakat tertentu, yang tersimpan dalam wujud peninggalan yang berupa tulisan.
Tujuan Umum
a)      Memahami kebudayaan suatu bangsa
b)      Memahami makna dan fungsi teks
c)      Mengungkap nilai-nilai budaya lama
Tujuan Khusus
a)      Menyunting sebuah teks yang dipandang mendekati teks aslinya.
b)      Mengungkap sejarah terjadinya teks dan sejarah perkembangannya
c)      Mengungkap resepsi pembaca pada setiap kurun penerimaannya (Baried, dalam Suryani, 2006:8).

E.     Sudut Pandang dan Orientasi Filologi
Filologi memandang perbedaan yang ada dalam beerbagai naskah sebagai suatu ciptaan dan menitikberatkan kerjanya pada perbedaan-perbedaan tersebut, serta memandangnya sebagai alternatif yang positif. Dalam pandangan ini, naskah dipandang sebagai dokumen budaya, sebagai refleksi  dari zamannya, aspek tersebut disebut filologi modern. Sedangkan kegiatan filologi yang menitikberatkan penelitiannya pada bacaan yang rusak disebut filologi tradisional.




BAB II: Kedudukan Filologi di Antara Ilmu-Ilmu Lain

A.    Ilmu Bantu Filologi
1.      Linguistik
Cabang linguistic yang dipandang dapat memantu filologi, antara lain: etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika. Etimologi adalah ilmu yang mempelajari asal-usul dan sejarah kata. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara perilaku bahasa dan perilaku masyarakat. Sedangkan Stilistika, yaitu cabang yang menyelidiki bahasa satra, khususnya gaya bahasa.
2.      Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang mempengaruhi Bahasa Teks
Bahasa yang mempengaruhi bahasa-bahasa naskah Nusantara, di antaranya; bahasa Sansekerta, Tamil, Arab Persi, dan bahasa daerah yang serumpun dengan bahasa naskah. Ilmu bantu filologi yang tidak kalah pentingnya adalah paleografi, yakni ilmu macam-macam tulisan kuno.
3.      Ilmu Satra
Hal ini dimaklumi karena naskah-naskah Nusantara kebanyakan mengandung teks satra, yakni teks yang bercerita rekaan (fiksi). Salah satu cabang ilmu sastra yang lainnya, yakni Sosiologi Sastra merupakan ilmu yang berusaha melakukan pendekatan terhadap sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.
4.      Pengaruh Agama Hindu, Budha, dan Islam
Pengetahuan tentang agama Hindu, Budha, dan Islam sangat diperlukan sebagai bekal penanganan sebagian besar naskah-naskah Nusantara, terutama untuk naskah-naskah yang berisi keagamaan.
5.      Sejarah Kebudayaan
Melalui sejarah kebudayaan, akan diketahui pertumbuhan dan perkembangan unsur-unsur budaya suatu bangsa. Unsur-unsur yang erat kaitannya dengan pendekatan historis karya-karya lama Nusantara, antara lain system kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan agama.


6.      Antropologi
Filolog dapat memanfaatkan hasil kajian  atau metode antropologi sebagai suatu ilmu yang objek penyelidikan manusia dipandang darin segi fisik, masyarakat, dan kebudayaannya.
7.      Folklor
Folklor menyentuh setiap aspek kehidupan tradisional. Unsur-unsur yang dirangkumnya yaitu, golongan unsure budaya bersifat lisan dan golongan unsure budaya berupa upacara-upacara. Folklor erat kaitannya dengan filologi karena banyak teks lama yang mencerminkan unsure-unsur folklor.

B.     Filologi sebagai Ilmu Bantu Ilmu-Ilmu Lain

Filologi sangat diperlukan dalam penelitian-penelitian linguistic. Ahli-ahli linguistic memerlukan suntingan teks-teks lama hasil kerja filologi. Filologi dapat menjadi ilmu bantu ilmu sastra, karena banyak naskah-naskah lama yang membahas atau maengkaji tentang sastra. Naskah-naskah Nusantara banyak yang mengandung tks-teks keagamaan. Sehubungan dengan itu, suntingan naskah, terutama naskah yang mengandung teks keagamaan/sastra kitab dan hasil pembahasan kandungannya, akan menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna. Filologi dapat menjadi ilmu bantu ilmu filsafat, karena renungan yang bersifat filsafat terjadi di masa lampau.

DESKRIPSI BUKU Judul buku                : FilologiPenulis                       : Elis Suryani NSPenerbit                     : Ghalia IndonesiaTahun terbit              : 2012Jumlah halaman       : 168 halamanUkuran buku             : 155 mm x 230 mm

Biografi: Endang Sugriwa (Abah Olot)

ENDANG SUGRIWA (ABAH OLOT)
           



Nama                           : Endang Sugriwa alias Abah Olot
Tempat, tanggal lahir  : Sumedang, 18 April 1964
Pekerjaan                     : Pembuat alat musik bambu, seperti Karinding, Celempung, Toleat, dll
Hasil Karya                 : Membudayakan dan melestarikan alat musik Karinding, Celempung,
                                      Toleat, dan sebagainya.
Riwayat

            Seorang sosok sederhana yang lebih akrab disapa Abah Olot, belakangan ini populer di kalangan komunitas musik metal kota Bandung . Ia membawa misi mulia, yakni melestarikan sebuah alat musik tradisional bernama Karinding, Celempung, dan sebagainya. Ia merasa bertanggung jawab untuk melestarikan alat musik tradisional tersebut yang dikabarkan terancam punah.

Teks dan Terjemahan Cerita Anak Berbahasa Belanda: PETER EN DE WOLF

TEKS

PETER EN DE WOLF

Er was eens een jongetje dat Peter heette. Op een vroege morgen opende hij het tuinhek en liep de grote, groene wei in. Op de tak van een hoge boom zat Peters beste vriendje, een vogeltje, en hij tsjilpte: "Het is hier heerlijk rustig."

Maar daar kwam ook een dikke eend aangewaggeld. Ze was blij dat Peter het hek had opengelaten, want ze had zin in een duik in de vijver.

Toen het vogeltje de eend zag, vloog ze naar beneden en ging naast haar in het gras zitten.

"Wat ben jij nou voor vogel dat je niet kunt vliegen?" vroeg het vogeltje.

"Kwaak!" riep de eend. "En wat ben jij voor vogel dat je niet kunt zwemmen?" En ze plonsde de vijver in.

Ze kibbelden en kibbelden en hielden niet op - de eend in de vijver en het vogeltje fladderend langs de waterkant.

Opeens zag Peter een kat, die langzaam kwam aansluipen door het gras. De kat dacht: Als het vogeltje zo aan het kibbelen is, kan ik 't makkelijk vangen en opeten! En op zijn zachte pootjes sloop hij eropaf. Maar Peter riep: "Kijk uit!" En gelukkig vloog het vogeltje op tijd de boom in.

Vanuit het midden van de vijver kwaakte de eend brutaal naar de kat. Daar was ze veilig. De kat keek nog eens naar het vogeltje in de boom en dacht: Is het wel de moeite waard om naar boven te klimmen? Als ik bij het vogeltje ben, dan is het al gevlogen. Miauw!

Toen kwam opa naar buiten. Hij was heel boos, omdat Peter zomaar was weggelopen. "Stel je nou eens voor dat er een grote boze wolf was gekomen, wat had je dan gedaan?"

Peter luisterde niet eens naar zijn opa, want hij was helemaal niet bang voor wolven. Maar opa dacht er anders over. Hij nam Peter mee naar huis en deed het hek heel goed op slot.

Maar... het hek was nog niet dicht of uit de bosjes kwam iets aangeslopen. Het was een grote, enge dikke, boze wolf...

In een flits zat de kat in de boom. De eend in de vijver kwaakte, en van de opwinding kwaakte ze zichzelf uit de vijver. De wolf kwam steeds dichterbij, en wat de eend ook probeerde, ze kon niet aan hem ontsnappen. In één hap slokte de wolf de eend naar binnen.
Het vogeltje zat ook nog steeds in de boom - niet te dicht bij de kat, natuurlijk - en onder de boom sloop de wolf heen en weer. Met grote, hongerige ogen gluurde hij naar de kat en het vogeltje.

Intussen stond Peter achter het hek en bekeek de wolf eens goed, want bang was hij nog steeds niet.

Toen ging Peter naar de schuur, haalde daar een stuk touw en klom op de tuinmuur. Over die muur hing een tak van de grote boom. Peter pakte de tak beet en klom de boom in.

"Vogeltje, ga jij eens naar de wolf," zei hij, "en probeer hem af te leiden. Maar zorg er wel voor dat hij je niet te pakken krijgt!"

En dat deed het dappere vogeltje. De wolf hapte woedend naar hem en - oei! - hij kreeg bijna een vleugeltje te pakken. Woest werd de wolf, omdat het vogeltje veel slimmer was dan hijzelf.

Intussen maakte Peter een lus in het touw en liet die langzaam uit de boom naar beneden zakken. Hij zorgde ervoor dat de staart van de wolf in de lus kwam en toen trok hij hard aan het touw. De wolf schrok en probeerde zich los te trekken. Hij rende woedend heen en weer, maar Peter had de andere kant van het touw vastgebonden aan de boom. Hoe harder de wolf tekeerging, des te strakker werd de lus vastgetrokken. De wolf was gevangen!

Op dat moment kwam er een groepje jagers uit het bos. Ze waren het wolvenspoor gevolgd en dachten net: We schieten hem neer! "Niet doen! Niet schieten!" riep Peter, toen hij hen zag. "Het vogeltje en ik hebben de wolf gevangen. Jullie moeten ons helpen om hem naar de dierentuin te brengen."

En daar gingen ze dan, in een vrolijke optocht. Peter liep natuurlijk voorop. Daarachter kwamen de jagers met de wolf aan een touw. Opa en de kat sloten de rij. Opa bleef maar mopperen: "Stel je nou toch eens voor dat Peter de wolf niet had gevangen, wat zou er dan met ons gebeurd zijn?"

Boven de optocht vloog het vogeltje. Hij tsjilpte blij: "Peter en ik zijn echte helden, want wij hebben de wolf gevangen. Tsjilp, tsjilp!" En als je heel goed luisterde, kon je de eend horen kwaken in de buik van de wolf. Want die had zo'n haast gehad, dat hij de eend levend had opgeslokt!

TERJEMAHAN

Peter dan Serigala

Suatu kali ada seorang anak bernama Peter. Pada suatu pagi ia membuka pintu gerbang dan berjalan ke padang rumput hijau yang besar. Pada cabang pohon yang tinggi Peters adalah teman terbaik, burung, dan ia berkicau “Disini sangat tenang.”
Tapi ada juga itik berbulu tebal berjalan terhuyung-huyung. Dia senang karena Peter telah membiarkan gerbang terbuka karena ia ingin berenang di kolam.
Ketika burung itu melihat itik, ia terbang ke bawah dan duduk di sampingnya di sebuah rumput.
" Apa yang kamu lakukan, untuk sejenis burung kamu tidak bisa terbang ? " tanya burung .
"Kwaak!" teriak itik. " Dan apa yang kamu lakukan di sini, untuk burung kamu tidak bisa berenang ? " Dan dia terjun ke kolam.
Mereka bertengkar dan bertengkar  tidak berhenti - itik di kolam dan beberapa burung beterbangan di tepi laut.
Tiba-tiba Peter melihat seekor kucing, yang perlahan-lahan datang ke arahnya melewati rumput . Kucing itu berpikir : Jika burung sedang bertengkar, aku bisa dengan mudah menangkap dan memakannya! Dan kaki lembutnya merayap ke arah burung . Tetapi Peter berseru, " Awas! " Dan burung kecil yang bahagia terbang ke pohon saat itu.
Dari tengah kolam itik bercakap brutal ke kucing . Disana dia aman. Kucing itu kembali memandang burung di pohon dan berpikir. Apakah aku harus berusaha mendaki ke atas? Kalau aku burung, dengan demikian aku sudah terbang. Miauw !
Ketika Kakek keluar. Ia sangat marah karena Peter baru saja melarikan diri. "Bayangkan sekarang bahwa ada serigala jahat datang ,apa yang akan kau lakukan? "
Peter bahkan tidak mendengarkan kakeknya karena dia tidak takut serigala. Tapi Kakek berpikir sebaliknya. Ia membawa Peter ke rumah dan mengunci pintu pagar dengan baik.
Tapi ... gerbang tidak ditutup ada yang keluar dari semak-semak datang menyelinap. Sesuatu yang besar, sangat gemuk, serigala jahat ...
Dalam sekejap, kucing duduk di pohon  itik di kolam bercakap dengan ramainya, dan dengan marah marah dia keluar dari kolam. Serigala mendekat , dan apadaya itik mencoba, dia tidak bisa melarikan diri dari serigala. Dalam satu gigitan, serigala menelan itik.
Burung itu juga masih di pohon - tidak terlalu dekat dengan kucing , tentu saja - dan di bawah pohon serigala menyusup bolak-balik. Dengan besar, lapar, ia mengintip tajam kucing dan burung.
Sementara itu Peter berdiri di belakang pagar dan menatap serigala baik-baik, karena ia tidak takut.
Ketika Peter pergi ke gudang , mengambil sepotong tali dan memanjat dinding taman. Di dinding tergantung sebuah cabang pohon besar. Peter meraih cabang dan memanjat pohon.
"Burung, kamu pergi ke serigala," katanya, "dan coba untuk mengalihkan perhatiannya. Tapi pastikan bahwa ia tidak menangkapmu! "
Dan burung melakukannya dengan berani. Serigala marah padanya dan - oops! – hampir saja sayapnya tertangkap. Serigala menjadi marah, karena burung itu jauh lebih cerdas daripada dia.
Sementara itu, Peter membuat lingkaran dari tali dan biarkan perlahan-lahan turun dari pohon. Dia berusaha agar ekor serigala dalam lingkaran dan ia menarik keras talinya. Serigala itu ketakutan dan mencoba melepaskan diri. Dia marah  sambil berlari bolak-balik, tetapi Peter mengikat ujung tali ke pohon. Semakin keras serigala meraung, tali yang menariknya semakin dipererat. Serigala tertangkap!
Pada saat itu datang sekelompok pemburu keluar dari hutan. Mereka mengikuti jejak serigala dan berpikir: Kami akan menembaknya! "Jangan! Jangan tembak!" Peter menangis ketika dia melihat mereka. "Burung dan saya telah menangkap serigala. Kalian harus membantu kami membawanya ke kebun binatang"
Dan mereka pergi dengan begitu senang secara beriringan. Tentu saja Peter berjalan di depan. Di belakang datang mereka para pemburu dengan serigala yang diikat pada tali. Kakek dan kucing mengunci barisan. Kakek terus menggerutu : "Bayangkan jika Peter tidak menangkap serigala, apa yang akan terjadi kepada kita?"
Di atas iring-iringan terbang burung. Dia berkicau senang: " Peter dan aku adalah pahlawan yang sebenarnya, karena kita telah menangkap serigala kywitt, kywitt." Dan jika kamu mendengarkan dengan hati-hati, kamu bisa mendengar itik di dalam perut serigala. Karena dia terburu-buru bahwa ia telah menelan itik hidup-hidup!


Diterjemahkan oleh: Agung Gumelar

Carita Pondok: Balap Lumpat

Balap Lumpat
(ku: Agung Gumelar)

            Kacaturkeun di hiji kandang hayam, anu boga hayam bikang nu loba tapi ngan boga hayam jalu hiji-hijina. Hayam jalu eta jadi pamingpin pikeun sakabeh hayam nu aya di kandang eta. Ngan hanjakal, si hayam jalu teh geus kolot pisan. Geus kuduna lain jadi pamingpin cenah ceuk hayam-hayam bikang teh. Tapi si hayam jalu anu geus kolot keukeuh hayang wae jadi pamingpin.
            Ningali kaayaan eta, nu boga kandang teh langsung meuli deui hayam jalu nu ngora. Niatna mah meh bisa ngagantikeun si hayam jalu nu geus kolot. Si hayam jalu nu geus kolot teu narima lamun manehna bakal digantikeun ku hayam jalu nu leuwih ngora. Manehna tuluy ngomong ka hayam jalu nu ngora bari ambek.
Hayam Jalu Kolot        : “Deuk naon euy maneh didieu?!”
Hayam Jalu Ngora       : “ Urang mah hayang ngagantikeun maneh didieu, kusabab maneh mah geus kolot”
Hayam Jalu Kolot        : “ Eh teu bisa sangeunahna kitu euy, mun maneh hayang jadi pamingpin didieu, urang boga tantangan keur maneh!”
Hayam Jalu Ngora       : “Naon tantanganna? Sok sebutkeun lah teu sieun urang mah”
Hayam Jalu Kolot        : “Urang nantang maneh keur balap lumpat, kumaha?”
Hayam Jalu Ngora       : “Alah teu pira balap lumpat hungkul, hayu der lah da pasti urang nu ngora nu meunang mun ngalawan nu kolot mah!”
Hayam Jalu Kolot        : “Heug atuh, tapi aya syaratna!”
Hayam Jalu Ngora       :”Naon tah syaratna?”
Hayam Jalu Kolot        :”Urang lumpat tiheula sameter lah, tah ngke maneh karek lumpat, nya ngarti we atuh da urang teh geus kolot, kumaha?”
Hayam Jalu Ngora       :”Sok lah teu nanaon, da angger nu meunang mah bakal urang.”
Tuluy, hayam jalu nu kolot jeung hayam jalu nu ngora langsung nyokot posisi keur lumpat. Hayam jalu nu kolot teu poho, manehna langsung lumpat heula sameter, tuluy hayam jalu nu ngora langsung lumpat bari ngudag-ngudag hayam anu kolot.
Teu lila, nu boga kandang hayam asup ka kandang hayam. Tuluy manehna nyokot hayam jalu anu ngora bari ngomong. “Euh gelo teh siah! Geus katujuh kalina urang meuli hayam anu homo!”


-Agung Gumelar-

Sastra Sunda 2013

Carita Pondok: Si Ujang Nyaba ka Leuweung

Si Ujang Nyaba ka Leuweung
(ku: Agung Gumelar)

            Si Ujang téh kasohor  jalma anu ngedul lamun dinu masalah digawe. Pagawéanana ngan sakur saré waé. Lamun geus dahar mah golédag deui saré di pangkéngna. Kusabab kalakuanana siga kitu, mitohana kacida pisan sebelna ka Si Ujang.
            Hiji mangsa, sinarieun Si Ujang indit ka leuweung. Maksudna mah rék néangan rejeki. Da kitu lumrahna, jalma anu geus ti leuweung mah sok rébo ku babawaan.
            Si Ujang geus anjog ka leuweung. Manéhna ngan hulang-huleng baé geus di leuweung téh. Teu puguh naon anu deuk dipigawé. Ari pék manéhna léos ka handapeun tangkal kai, rék ngadon reureuh da cape. Rét Si Ujang téh ka luhur, dina dahan loba pisan manuk anu keur ngaub, disadana patembal-tembal jeung manuk nu lain. Si Ujang resepeun pisan tur atoh ningali manuk nu aya di luhur dahan nu keur silih ngaub  patembal-tembal. Manéhna tuluy héhéotan nurutan sora-sora manuk. Si Ujang tuluy leumpang deui bari ngahariring, teu puguh deuk kamana tujuanna jeung teu puguh naon anu rék di pigawé.
            Keur Si Ujang  jongjon leumpang, manéhna nénjo aya sayang odéng badag nu ngagantung dina tangkal kai. Reg eureun Si Ujang téh dina handapeun tangkal kai nu aya sayang odéngna. Tuluy Si Ujang mencrong éta odéng. Indungna rabul tina sayangna. Éta odéng teh aya nu kaluar, aya nu ka jero arasup bari marawa madu beunang nyeuseup tina kekembangan téa. Si Ujang anteng baé nénjo éta odéng. Sakapeung mah Si Ujang téh sok seuseurian sorangan, éta cenah pédah sora odéng téh ngaguruh jiga kapal udara. Ku sabab anteng teuing, Si Ujang ngadon kasaréan.
            Pasosore, Si Ujang kakara balik ka imahna. Mitohana geus aya dina lawang panto, tuluy nanya ka Si Ujang.
“Heh Ujang, balik ti mana ai manéh meuni burit-burit teuing?”
“Ti leuweung, Bah.” bari reuwas Si Ujang ngajawab.
“Naon maksud ka leuweung téh?”
”Ah hayang wé Bah, sugan wé meunang rejeki balik ti leuweung téh” ceuk Si Ujang téh.
“Cing meunang naon atuh balik ti leuweung téh?”
“Teu meunang nanaon ah, Bah.”
“Naha teu meunang nanaon? Da saré meureun nyak manéh mah di leuweung téh?”
“Hen.. henteu Bah.” jawab Si Ujang bari sieun kapanggih ngabohong.
“Ah bohong siah.”
“Saré kétang Bah saeutik.”
“Teu iraha teu dimana maneh mah pagawéan téh ngan saukur saré jeung saré wé. Teu manggih nanaon di leuweung téh?”
“Manggih Bah, manggih odéng, sayangna meni badag siah Bah.”
“Mana maduna atuh Ujang?”
“Madu?” Si Ujang héraneun.
“Bodo manéh mah, Ujang. Engké mah ari manggih odéng teh ala maduna.”
“Sieun nyeureud ah, Bah.”
“Gampang, duruk wé buntutna.” ceuk mitohana bari jéngkél.


Isukna Si Ujang geus indit deui ka leuweung deuk néang deui éta odéng. Koja mitohana dibawa keur wadah maduna. Geus neangan kukurilingan di leuweung, sayang odéng téh teu kapanggih. Si Ujang terus aprak-aprakkan di leuweung. Manéhna nenjo uncal nu keur héés dihandapeun tangkal. Si Ujang ujug-ujug inget kana papatah mitohana.
“Awas siah, di duruk buntutna ku aing.” ceuk Si Ujang bari ngadeukeutan éta uncal.
Kusiwel Si Ujang téh ngodok panékér dina saku calanana. Tuluy ngahurungkeun tapas kalapa garing. Keteyep manéhna ngadeukeutan uncal nu keur héés tibra pisan. Kojana dikaitkeun kana tanduk uncal. Teu lila, buntut uncal téh diduruk ku Si Ujang. Puguh baé uncal téh reuwaseun, tuluy ngajleng luncat bari kabur.
Si Ujang teu meunang nanaon deui. Manéhna langsung balik lantaran geus lapareun. Terus bébéja ka mitohana yén kojana dibawa kabur ku uncal. Mitohana kacida pisan jéngkél ka Si Ujang ngadéngé pamolah minantuna kitu. Si Ujang dicarékan ku mitohana tapi teu didéngé. Léos wé manéhna mah ka dapur dahar nepi ka kamerkaan. Jiga biasa, Si ujang tuluy saré deui pas geus dahar.